Kamis, 31 Maret 2011

Ibnul Qoyyim Al Jauziyah: “Kemaksiatan Menambah Keimanan Seorang Muslim”

Ada manusia yang berpendapat bahwa terjadinya maksiat bisa menambah keimanan. Sudut pandang ini termasuk yang paling halus, sehingga jarang ada orang yang bisa menerapkannya. Hanya orang ahli ma'rifat saja yang bisa menerapkan sudut pandang ini. Mungkin saja orang yang mendengar pernyataan ini dengan serta-merta akan protes. Dia akan berkata lantang: "Bagaimana mungkin perbuatan dosa dan maksiat diakui bisa menambah keimanan? Apalagi jika dosa dan kemaksiatan itu dilakukan oleh seorang hamba Allah. Bukankah perbuatan itu akan semakin mengurangi kadar keimanan dalam dirinya? Bukankah para ulama salaf juga bersepakat bahwa keimanan bertambah akibat ketaatan kepada Allah dan berkurang akibat maksiat kepada-Nya?

Ketahuilah bahwa kesimpulan semacam ini dihasilkan dari perenungan seorang yang ma'rifat (mengenal Allah sangat dekat) terhadap dosa-dosa dan perbuatan maksiat yang berasal dari dirinya maupun orang lain. Orang yang arif merenungkan perbuatan dosa dan maksiat sampai dengan akibat yang dihasilkan perbuatan bejat tersebut. Dan ternyata dapat disimpulkan bahwa akibat dari perbuatan dosa dan maksiat yang biasanya menimbulkkan bencana dan munculnya mu'jizat, merupakan salah satu dari tanda-tanda kenabian dan sebagai bukti kebenaran pam rasul Allah Ta'laa. Bahkan akibat perbuatan dosa itu malah menegaskan kebenaran ajaran yang dibawa para rasul Allah tersebut.

Sesungguhnya para rasul Allah shalawaatullahu wa salaamuhu 'alaihim memerintahkan ummat manusia untuk membenahi kondisi lahir maupun batin mereka, baik di
kehidupan dunia maupun akhirat. Para rasul juga melarang mereka untuk melakukan kerusakan pada lahir-batin mereka baik di dunia maupun akhirat. Maka utusan-utusan Allah itu memberitahukan kepada umat manusia bahwa sesungguhnya Allah itu menyukai perbuatan yang ini dan itu. Allah juga akan mengganjar perbuatan yang telah dilaksanakan. Para rasul juga memberitahukan bahwa Allah membenci perbuatan yang ini dan itu. Dan Allah akan mendatangkan siksa atas perbuatan tersebut. Apabila umat manusia mentaati apa yang telah Dia perintahkan kepadanya, maka Allah akan bersyukur kepadanya dengan cara memberikan pertolongan dan tambahan kenikmatan di dalam hati, jasad maupun hartanya. Maka hamba tersebut akan merasakan kecukupan dan kekuatan di setiap situasi. Akan tetapi apabila perintah dan larangan-Nya dilanggar, maka hal itu menyebabkan ketidak-cukupan, kerusakan, kelemahan, kehinaan, diremehkan, dan kehidupan yang terasa sangat sempit.

Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Ta'aala: 'Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(QS. an-Nahl (16):67). "Katakanlah: "Hai hamba-hamha-Ku yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang bcrbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan." (QS. az-Zumar (39):10). "Dan scsungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik."(QS.an Nahl(16):30). "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Jika kamu mengerjakan yang demikian, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampa i kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat" (QS. Huud (11):3). "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (QS. Thaaha (20):124-125).

Yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit di dalam ayat tersebut di atas ditafsirkan oleh sebagian ulama sebagai adzab kubur. Namun yang benar bahwa arti kehidupan yang sempit itu adalah kehidupan di dunia dan kehidupan di alam barzakh. Sesungguhnya orang yang berpaling dari peringatan yang telah diturunkan oleh Allah akan merasa bahwa kehidupannya sempit dan susah. Dia juga akan sering merasa takut, memiliki keinginan yang berlebihan, sangat payah mencari materi duniawi, selalu merasa ragu ketika balum berhasil meraih keinginan materialnya, dan merasa tersiksa jika tidak bergelimang harta. Di samping itu ada beberapa hal kurang baik lain yang dialami oleh hatinya tanpa dia sadari. Ini disebabkan karena dia sedang mabuk dan tenggelam dalam ambisi duniawinya itu. Dia tidak akan pemah sadar walau sesaat kecuali baru menyadari dan merasakan sakitnya kondisi tersebut. Pada waktu itu dia akan segera menghindarkan dirinya untuk tidak jatuh yang kedua kalinya dalam kondisi mabuk. Dia akan terus mengalami kondisi seperti ini sepanjang hidupnya. Mana ada kehidupan yang terasa lebih sempit dibandingkan dengan kondisi hati yang mengalam i perasaa seperti itu ?

Orang-orang ahli bid'ah, orang yang berpaling dari al-Qur'an, orang yang lalai kepada Allah dan orang-orang tukang berbuat maksiat, hatinya berada di dalam neraka Jahim sebelum dirinya masuk ke dalam neraka jahim yang sesungguhnya. Sedangkan hati orang-orang yang baik berada di dalam surga an-Na'im sebelum masuk ke dalam surga an-Na'im yang sebenarnya. Allah Tabaaraka wa Ta'aala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar bcrada dalam neraka" (QS. al Infithaar (82):13-14)..

Kehidupan sempit berlaku dalam tiga daur kehidupan mereka (yakni kehidupan dunia, alam kubur dun akhirat), bukan hanya kehidupan akhirat saja. Sekalipun kehidupan yang sangat menyiksa itu mencapai puncaknya di kehidupan akhirat. Sedangkan tingkatan yang lebih rendah lagi akan dia alami di dalam kehidupan alam barzakh. Allah Ta'aala befirman: "Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada adzab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuil" (QS. al Thuur (52):47). "Dan mereka (orang-orang kafir) berkata: " Bilakah datangnya adzab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar".Katakanlah: "Mungkin telah hampir datang kepadamu sebagian dari (adzab) yang kamu minta (supaya) disegerakan itu." (QS. an-Naml (27):71-72).
-
Siksaan yang dialami di dalam kehidupan dunia ini memang lebih ringan dibandingkan dengan kehidupan sulit yang akan diterima seseorang di dalam alam barzakh. Hanya saja tenggelam dalam mabuknya hasrat syahwat menyebabkan dia tidak menyadari kesempitan hidup tersebut dan sengaja membuang jauh-jauh dari hatinya. Mereka tidak merenungkan dan menyadari bahwa kondisi dirinya sudah sangat terpuruk.

Seorang hamba kadang kala merasakan rasa sakit tersebut disekujur tubuhnya. Namun dia sengaja membuang jauh-jauh den bayangan hatinya dan tidak lagi memperdulikannya. Dia berusaha mengalihkan perhatian kepada obyek lain sehinga tidak seratus persen merasakan kehidupan sempit itu. Akan tetapi jika upaya pengalihan perhatian itu lepas dari dirinya, pasti dia akan kembali menjerit kesakitan. Bagaimana menurutmu dengan siksaan rasa sakit di dalam hati seperti ini? Bukankah malah sangat menyiksa? Allah Subhaanahu wa ta'aala telah menjanjikan hal hal positif dan menyenangkan untuk berbagai bentuk kebaikan dan ketaatan kepada-Nya. Kenikmatan janji Allah itu jauh lebih menyenang kendati pada kenikmatan maksiat yang hanya bersifat sementara. Bahkan kenikmatan janji Allah itu tidak ada bandingannya. Namun sebaliknya, Allah akan memberikan rasa sakit dan tersiksa akibat perbuatan buruk dan tindak maksiat. Rasa sakit itu jauh lebih besar dibandingkan dengan kenikmatan yang dia rasakan sekejap ketika mengerjakan maksiat tersebut.

Ibnu Abbas radhiyallalu `anhumaa berkata: ”Sesungguhnya perbuatan baik itu memiliki cahaya di dalam hati, pancaran di wajah, kekuatan di badan, menyebabkan rezeki semakin bertambah dan menanamkan rasa cinta di dalam hati makhluk. Sedangkan perbuatan buruk menyebabkan kesuraman diraut wajah, kegelapan di dalam hati. Kelemahan di fisik, menyebabkan rezeki berkurang, dan menanamkan rasa tidak suka di dalam hati makhluk. Hal ini sebenamya telah dibuktikan oleh orang-orang yang hatinya bersih. Dia akan bisa merasakan kenikmatan itu, sedangkan orang lain tidak bisa menangkapnya.

Seorang hamba tidak akan mengalami kondisi yang sangat tidak menyenangkan kecuali jika dia mengerjakan perbuatan dosa. Padahal kesalahan yang dimaafkan oleh Allah sudah sangat hanyak. Allah Ta'aala telah berfirman:"Dan sebuah musibah yang menimpa kamu sebenamya disebabkan oleh perbuatan tanganmu sandiri, dan Allah memaafkan sebagian besar(dari kesalahan-kesalahanmu)
(QS. al Syuura (42):30). "Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu. (pada peperangan Badar) kamu berkata: "Dari mana datangnya kekalahan) ini?" Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali -Imran(3):165). "Apa saja kebaikan (nikmat) yang menimpamu adalah dari Allah dan apa saja keburukan (bencana) yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi." (QS.An-Nisaa' (4):79).


Yang dimaksud dengan kebaikan dan keburukan di dalam ayat tersebut adalah kenikmatan dan bencana yang diterima oleh hamba dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itu disebutkan dengan kalimat "Apa saja yang menimpamu," tidak disebutkan dengan kalimat "Apa yang kamu peroleh." Sebab pada hakekatnya semua berasal dari Allah Ta'aala.

Segala bentuk kekurangan, bencana dan keburukan yang ada di dunia maupun di akhirat, tidak lain disebabkan oleh dosa hamba dan karena menyalahi perintah-perintah Allah Ta'aala. Tidak ada keburukan di muka bumi ini kecuali diakibatkan oleh dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia itu sendiri.

Pengaruh dari perbuatan baik dun buruk yang bisa dilihat dalam hati, badan, ataupun harta, benar-benar sebuah fenomena alam yang bisa dilihat dcngan indera mata. Tidak akan ada satu pun orang berakal sehat yang mampu mengingkarinya. Bahkan fenomana itu mampu dilihat oleh orang mukmin, orang kafir, orang baik maupun orang buruk.

Hamba yang bisa melihat bekas-bekas fenomena tersebut untuk kemudian direnungkan dan dipikirkan, maka dia termasuk orang yang memperkuat keimanannya dengan ajaran yang dibawa oleh para rasul. Dia juga memperkuat kualitas keimanan dalam dirinya dengan cara merenungkan pahala dan siksa.

Sesungguhnya semua itu merupakan tanda-tanda material yang bisa dilihat di muka bumi ini. Fenomena-fenomena tersebut merupakan ganjaran maupun siksa yang diawal kejadiannya adalah di dunia. Fenomena-fenomena itu juga akan lebih berarti bagi orang-orang yang memiliki kejelian hati. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang kepadaku (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah): "Jika aku telah mengerjakan sebuah dosa dan tidak segera aku kejar dengan taubat, maka aku menanti akibat buruk yang akan terjadi. Jika sesuatu yang tidak menyenangkan itu telah menimpa diriku, apakah lebih ringan ataukah lebih parah, maka kebiasaan yang aku jalani adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

Efek negatif ini sebenamya menjadi bukti dan dalil-datil keimanan. Sesungguhnya orang yang jujur jika kamu beritahu bahwa apabila kamu baru saja megerjakan begini- begitu maka akan berakibat yang begini dan begitu, maka dia akan semakin yakin dengan pemberitahuan tersebut. Apalagi jika setiap kali kamu mengatakan tersebut dibarengi dengan bukti sesualu yang tidak menyenangkan. Namun perasaan semacam ini tidak selalu dimiliki oleh setiap orang. Bahkan mayoritas hati manusia dipenuhi dengan noktah-noktah hitam karena perbuatan dosa. Dengan demikian dia tidak akan pemah melihat dan merasakan tentang sesuatu yang sedang menimpanya.

Perasaan jujur terhadap akibat dari sebuah perbuatan hanya bisa dirasakan oleh hati yang dipenuhi cahaya keimanan. Sedangkan atmosfer dosa dan maksiat akan bertiup kencang di dalamnya. Hati orang-orang jujur pun akan bisa mengakui fenomena yang tejadi akibat suatu perbuatan. Dia akan bisa memperkirakan kekuatan cahaya keimanannya di tengah badai angin dosa dan maksiat yang berhembus kencang. Dia melihat dirinya bagaikan pelaut di tengah samudra yang dilanda angin kencang. Perahu yang ditumpanginya sangat terancam untuk terbalik dan terancam pecah karena terhempas badai yang dahsyat. Begitu juga dengan seorang mukmin yang selalu memonitor jiwanya ketika habis mengerjakan maksiat atau pun melakukan perbuatan dosa.


Ketika pintu ini telah terbuka bagi seorang hamba, maka memperhatikan sejarah kejadian Bumi ini dan memperhatikan keadaan beberapa umat manusia akan sangat bermanfaat baginya. Bahkan kejadian yang menimpa masyarakat di sekitar dirinya bukan saja akan memberikan manfaat yang sangat besar (namun akan memberi lebih dari sekedar manfaat-penj). Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Ta'aala: "Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?” (QS. al Ra'd (13):33).
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang manegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"(QS. All Imruan (3):18).


Setiap keburukan, bencana, siksa, ketakutan dan kekurangan yang terjadi pada dirinya maupun orang lain termasuk dalam kerangka keadilan Allah Subhaanahu wa
Ta'aala. Demikianlah bentuk keadilan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Hal itu sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah kepada orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi: “Maka bila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana" (QS. al Israa' (17):5).

Dosa-dosa manusia subenarnya ibarat racun yang sangat membahayakan tubuh. Apabila dosa dosa itu segera diatasi oleh orang yang memasukkan obat ke dalam tubuh, maka mungkin racun itu bisa segera dilumpuhkan. Jika tidak, maka kekuatan imannya akan segera terkalahkan dan dia pun akan mengalami kebinasaan.

Sebagian ulama salaf ada yang berkata: Pcrbuatan perbuatan maksiat menuntut kekufuran sebagaimana juga demam terkadang juga menuntut kematian. Biasanya seseorang akan bisa melihat kekurangannya setelah dia bermaksiat kepada Tuhannya. Karena perbuatan maksiat yang telah dikerjakan itulah hatinya menjadi berubah dan tidak lagi kasar. Dia akan menyadari kehinaan dirinya di hadapan anggota keluarga, anak-anak, isteri maupun saudara-saudaranya. Dia akan menginstrospeksi diri sehingga menyadari dari mana dia berasal. Kondisi jiwa seperti inilah yang menyebabkan keimanannya semakin kuat. Jika dia melepaskan semua sebab yang bisa menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kehancuran itu, maka kadar keimanannya pun akan semakin kuat. Dia akan melihat adanya keperkasaan setelah sebelumnya terhina, melihat kekayaan setelah sebelumnya kefakiran, kebahagiaan yang sebelumnya kesusahan, keamanan yang sebelumnya rasa takut dan kekuatan setelah sebelumnya lemah dan hina.

Bukti-bukti dan dalil-dalil keimanan itu semakin memperkuat pendirian hatinya baik ketika dia bermaksiat ataupun ketika menjalanhan ketaatan kepada Allah. Mereka ini sebenarnya termasukdalam firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagai berikut: "Agar Allah menutupi; (mengampuni) perbuatan paling buruk yang telah mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."(QS. az-Zumar(39):35).

Ketika seseorang bisa menerapkan sudut pandang ini dengan sebenamya, maka dia akan menjadi salah seorang yang mampu mengobati hati dan bisa mengetahui penyakit dan obat bagi hati yang sedang sakit. Sehingga Allah 'Azza wa Jalla akan memberikan manfaat kepada dirinya sendiri dan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Wollohu a'lam.

(Dikutip dari buku Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, berjudul “Masyaahid Al Khalq fi Al Ma’shiyah”, Al Maktab Al Islami, Beirut, Cetakan I, tahun 1405H/1985). Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Wawan Djunaedi Soffandi, S.Ag oleh penerbit Pustaka Azzam, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar